Tampilkan postingan dengan label Slice of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Slice of Life. Tampilkan semua postingan

19 Mei 2024

Ketika

Ketika hujan tak lagi malu menampakkan dirinya,

walaupun setelah menanti langit murung

Maka disitu semua luka tak lagi sembunyi


Ketika helaan nafas tak lagi cukup,

untuk menyimpan segala cerita

Maka tak ada lagi kata yang tercekat


Ketika doa di sunyi malam tak terhitung panjangnya,

dan sajadah terendam airmata

Mungkin maaf pun sudah tak bermakna


Letisia

-20 Mei 2024-

29 Agustus 2023

Pertanyaan Untukmu yang Bertanya Padaku

 Sebenarnya kapan moment kamu tahu bahwa kamu telah kehilangan dia?

Apakah saat dia mengucapkan selamat tinggal?

Atau ketika dia mengaku mulai lelah melalui semua ini?

Atau justru saat kamu terbangun di tengah malam dan menatapnya tertidur?

Tanpa mampu mengucap sepatah kata apapun padanya.

Padahal berjuta tanya berkecamuk di kepalamu.

Dan akhirnya hanya airmata-lah jawaban yang kau dapat.

13 Juni 2023

Catatan Saat Langit Gelap (2)

 Love, 

just like life, is a choice.

You can choose who, when and where. And sometimes : Why.

You can choose to dance only on the bright side, or stuck in dark secrets.

You can also choose to stay or leave.

Fight or Flight.

Say YES or NO.

Be faithfull or UNfaith full.

Give it all or save some to protect your heart.

Fall in or fall out.


So, think slowly, and choose wisely.


-Letisia-

4 juni 2023

7 Mei 2023

Catatan Orang Bingung (1)

Pagi ini saat sedang memeriksa performa blog, aku jadi scrolling dan baca-baca lagi postinganku yang lama.
Dan salah satunya adalah tulisanku yang ini : 16 Januari
My oh my... Aku tersenyum sambil menahan airmata membacanya.
Jangan ditanya kenapa aku hampir menangis, cukup tanyakan saja kenapa aku tersenyum.

Aku tersenyum saat membacanya karena... kasihan. Iya, kasihan pada diriku sendiri.
Ah betapa polosnya aku saat menulis itu.
9 tahun pernikahan dan merasa sudah on the right track.

Tahun ini, 12 tahun 5 bulan menjalani pernikahan, aku justru merasa... apa ya.
Sulit dijelaskan.
Bukan tidak bahagia, bukan. 
Sungguh, aku bahagia hidup berdua dengan suamiku. Walaupun kondisi long distance dan hanya bisa bertemu saat weekend, kami sangat bahagia dan bersyukur.
Aku hanya merasa.... bingung.

Andai bisa kuceritakan kenapa aku bingung.
Tapi aku ngga bisa dan ngga mau cerita disini.

Aku hanya bisa menulis bahwa pernikahan itu sungguh ibadah yang paling WAW. 
Sebuah pembelajaran terus menerus.
Sebuah proses untuk saling mengenal dan saling kompromi.
Sebuah drama yang tamatnya ditentukan oleh hanya 2 kemungkinan : Maut atau Cerai.

Waiitttt
Don't worry. Ngga ada masalah dengan pernikahanku disini.
Justruuuu aku tuh beberapa bulan belakangan mendapat curhatan dari beberapa teman dekat (dan 1 teman yang tidak terlalu dekat tapi entah kenapa kok dia tiba-tiba nyaman curhat soal rumah tangganya).
Dan curhatan mereka tuh bikin aku terpana.

That's why aku ngga bisa menceritakan kenapa aku bingung, karena cerita ini milik mereka, bukan milikku. Aku udah berjanji untuk menjaganya dalam hatiku saja.

Anyway, 
Kisah mereka membuatku sadar.
Bahwa selama dan sepanjang apapun perjalanan pernikahan kita, bisa jadi kita sebenarnya tidak sepenuhnya mengenal pasangan kita.
Everyone has their own baggage. They share some and they keep some to themself.
Bahwa selancar apapun pencapaian dalam rumah tangga kita, belum tentu membawa ketenangan.
Bahwa cinta saja bisa jadi cukup untuk kebahagiaan sepasang suami istri, tapi belum tentu cukup untuk pasangan lainnya.
Bahwa pernikahan yang bahagia belum tentu suci tak bernoda, dan pernikahan yang banyak batu sandungan belum tentu tak bahagia.
Bahwa kekuatan iman sangatlah menentukan arah pernikahan kita.

Lalu, kenapa aku jadi bingung ya?
Entahlah... sepertinya aku sedang overwhelmed.
Hidupku tenang-tenang saja sampai mereka satu-persatu mulai curhat karena sudah tidak tertahankan.
Sebagai teman tentu aku hanya bisa menawarkan telinga untuk mendengar.
Karena belum pernah mengalami apa yang mereka alami, ya aku hanya bisa menawarkan telingaku dan diamku. Hanya bisa memberikan pelukan dan elusan di punggung.

Tapi sejak itu, 
Mental aku jadi agak sedikit goyah.
Jadi banyak terpikirkan ini itu dan muncul pertanyaan-pertanyaan.
Kalo kata gen-Z mah : overthinking.

heheheh

Oke segitu aja dulu. Aku hanya lagi butuh menulis aja, ngga tahu juga ini tujuannya apa.
Hanya butuh menyalurkan yang ada di kepala.

Catatan Saat Langit Gelap (2)

Cinta,
Mungkin adalah tentang maaf tak berbatas
Sekalipun dunia sedang terasa runtuh dan takdir pun menyesakkan dada.

Cinta,
Mungkin adalah tentang usaha tak berujung dari separuh hati untuk memberi senyum pada separuh lainnya.
Meskipun lelah tak terkira.

Cinta,
Bisa jadi berupa alunan kata manis ataupun tatapan dalam diam.
Berupa pelukan yang selalu dirindukan ataupun sekedar kehadiran di sisi, tanpa syarat.

Cinta,
Memberi binar pada mata, mengulas senyum di bibir dan sering pula membanjiri dada dengan airmata.

Tapi cinta,
sesakit apapun luka yang digoresnya, selalu dirindukan hadirnya kembali.

Bandung, 8 Mei 2023
-Letisia- 

23 April 2023

Catatan Saat Langit Gelap (1)

Ada anak perempuan 

yang sedang berusaha tersenyum.

Di hadapan orangtuanya dan kakak adiknya.

Walaupun di balik itu dirinya sedang penuh luka.


Hatinya yg berdarah ingin pulang untuk mengadu.

Tapi ia tahu Allah sedang bersiap membuka pintu surga untuknya kelak.

Jadi, ia memilih diam. Tersenyum. Tertawa.


Tangisnya hanya pecah di akhir sholat.

Airmatanya mengalir bersama sunyinya malam.


Kepingan hatinya yang hancur,

Dipungutnya satu per satu.

Demi meraih janji pintu surga.

Surga yang disiapkan untuk istri yang memaafkan dan bersabar.


Hatinya ingin meminta keadilan di dunia.

Tapi ia tahu Allah sedang merindukan taubat dan doa2 darinya.

Jadi ia bertahan diam tak membalas.

Demi melewati dunia yang hanya sekejap ini.


Ada anak perempuan

Yang sedang membaca ini.

Dan merasa ini adalah tentangnya.

Iya, ini memang tentangmu.

Tulisan ini memang untukmu.

Semoga engkau selalu kuat untuk tersenyum.

Semoga airmatamu dibalas pahala.

Semoga maaf dan sabarmu berbuah surga.

Sungguh, hanya janji akhirat lah yang bisa menguatkanmu, menyabarkanmu dan membantumu untuk ridho.


Bandung, 24 April 2023.

-Letisia-

12 Desember 2022

Love Language dan Para Pelakunya

Belakangan ini istilah Love Language sering digunakan dalam percakapan sehari-hari dan juga dijadikan konten di berbagai media sosial..

Berawal dari seorang teman yang sedang merencanakan perbikahannya
bertanya kepada saya yang (saat itu) baru 10 tahun menikah. Ia bertanya, “Teh, kalau teteh dan suami itu love language-nya apa sih? kok aku lihat kayaknya teteh dan suami tuh casual banget, kayak orang
temenan aja gitu”

Saya bingung menjawabnya. Karena bahkan belum pernah mendengar istilah itu. Jadi saya hanya bisa jawab,”hah?”.

Dan dia masih melanjutkan, “Iya..apakah act of service, physical touch, words of affirmation...”

Sejujurnya, saya tidak tahu. Dan memang tidak pernah terpikirkan untuk mengetahui bahasa cinta suami saya. Selama ini yang kami (saya dan suami) tahu adalah cinta ya cinta aja. Seseorang bisa menunjukkan
cintanya melalui kata-kata manis dan perhatian dalam bentuk tindakan juga perhatian dalam bentuk kalimat, ataupun lainnya. Tidak pernah terpikirkan bahwa satu orang hanya bisa dikategorikan ke dalam 1
(satu) love language.

Dan di benak saya malah muncul pertanyaan berikutnya, “Apa pentingnya menentukan dan mengetahui love language?”.

Setelah istilah ini sering sekali muncul dari setiap obrolan saya dengan beberapa kenalan, jadi penasaran kan. Akhirnya dilakukan pencarian informasi, lewat Google tentunya. Ternyata, pengelompokan Love Language ini pertama kali ditemukan atau dikemukakan oleh Gary Chapman dalam bukunya yang berujudul The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate  pada tahun 1992.  Buku ini menguraikan lima cara umum yang diungkapkan dan dirasakan oleh sebuah pasangan romantis.

Dan 5 cara umum tersebut adalah :

·         Words of affirmation

·         Quality time

·         Giving gifts

·         Acts of service

·         Physical touch

Jadi sudah lumayan lama ya, sejak tahun 1992. Tapi entah kenapa istilah ini tidak populer di saat usia saya seperempat abad. Ingin sekali membaca bukunya supaya paham tapi belum kesampaian. Setelah
diperhatikan selama beberapa waktu, ternyata Love Language ini dianggap penting hanya oleh teman-teman saya yang berusia 30 tahun ke bawah. Jadi, masuk kategori Gen-Z?. Saking pentingnya sampai 5 kategori ini (kadang saya menemukan 7 kategori) dijadikan patokan apakah mereka bisa bertahan dengan pasangannya.

Contohnya begini. Seorang teman yang meng-klaim dirinya memiliki love language Quality Time merasa pasangannya yang hanya bisa Giving Gifts tidak cukup membuatnya bahagia, dan dia pun takut pasangannya merasa kurang menerima bentuk cintanya. Ia merasa ada yang kurang dan menjadi bimbang apakah perlu dilanjutkan ke pernikahan. Semua ini hanya didasarkan pada love language mereka masing-masing. Padahal apakah selama kebersamaan mereka itu betul-betul hanya quality time yang ia perlukan untuk bahagia dalam hubungannya? Apakah saat pasangannya memberikan hadiah itu tidak membuatnya tersenyum? Dan apa iya hanya 2 bahasa cinta itu yang terus menerus muncul dalam kebersamaan mereka?

Karena dalam sebuah hubungan romantis pasti ada lebih dari 2 love language yang muncul. Yang saya tidak yakin adalah, mereka betul-betul membaca buku Gary Chapman dan memahami maksud dan tujuannya.

Beda orang, beda lagi ceritanya. Kali ini seorang yang mengaku love language yang ia suka dan inginkan adalah Words of Affirmation. Ia meminta untuk dikenalin gitu, semacam cariin jodoh lah. Tapi saat kakaknya mau mengenalkan ke seseorang dan memberitahu bahwa ini orangnya baik tapi sepertinya pendiam, jadi jangan ragu untuk memulai obrolan.

Dia malah menjawab “Aduh yang pendiam gitu biasanya love language-nya act of service atau giving gifts yaa. Aku ngga bisa kalau kayak gitu pasti ngebatin deh. I need words of affirmation.” Bahkan sebelum sempat dikenalkan. Kakaknya hanya bisa melongo.

Kali ini beda orang lagi dan beda usia. Usia 36 tahun dan status sudah menikah sekitar 5 tahun. Tentu saja ada keluhan tentang pasangan hidupnya. Tapi dari semua keluhannya itu tidak satupun ia salahkan pada si 5 (atau 7) kategori bahasa cinta itu.

Jadi, apakah betul kita perlu tahu love language seseorang?

Kalau kita mencari tahu dengan tujuan supaya bisa melakukan atau memberikan bahasa cinta yang disukai pasangan kita, sepertinya masih masuk akal. Tapi jangan dijadikan patokan keberhasilan dalam sebuah hubungan romantis.

Dan apakah 1 orang hanya memiliki 1 bahasa cinta? Dan hanya ingin menerima 1 saja bentuk bahasa cintanya? Bisakah manusia hanya memiliki dan menyukai 1 bahasa cinta?

Karena sejujurnya kalau saya sih ya ingin banget suami saya mengantar saya kemana-mana lalu di perjalanan pulang membelikan saya tas baru dan sebelum tidur mengucapkan I love you.  3 love language dari 1
orang. Wow.

7 Desember 2022

Akhir Tahun 2022 : Sudah Punya Apa Saja?

Saat saya menulis ini, Tahun 2022 tersisa 19 hari lagi.
Jujur, rasanya pedih ke hati. Juga takut.




Pedih karena merasa ngga ada perkembangan yang signifikan dalam hidup saya di 2022.
Takut karena merasa.. ya takut.. takut hidup sia-sia.
1 tahun berlalu tanpa terasa seperti 365 hari.

Jadi sering bertanya-tanya, "Saya sudah punya apa saja? apa saja yang sudah dilakukan dan diciptakan?".
Overthinking? hmmm..ngga tahu juga ya ini termasuk overthinking atau memang hanya instrospeksi saja?
Lah malah nanya terus ya.

Kamu yang lagi baca ini, punya pertanyaan yang sama ke diri sendiri?
Waktu awal tahun, bikin resolusi ngga? ada yang tercapai dari daftar resolusinya?
Tuh kan malah nanya lagi.

Di sisi lain, saya selalu berusaha untuk bersyukur. Untuk segala hal kecil maupun besar.
Sadar diri ini masih banyak mengeluh jadi sering mengingatkan diri sendiri untuk ingat setiap detail yang seharusnya saya syukuri. 

Tahun ini memang saya dan suami masih belum dikaruniai anak, tapi saya merasa hubungan kami berdua makin kuat dan erat melebihi tahun sebelumnya.
Tahun ini transaksi Leins Wedding dan Studio Rias Letisia memang menurun drastis, tapi penjualan Bumbu Giling Leins Kitchen meningkat jauh diatas target awal.
2022 ini orangua, kakak-kakak  dan juga 4 keponakan saya masih ada. Hidup, sehat, dan bahagia.
Begitupun di keluarga suami, tidak ada berita duka tetapi justru berita bahagia karena ada keponakan yang melahirkan.

Apa lagi ya...

Yang sekarang bisa ditulis sih itu saja. Tapi tentu sebenarnya sih masih sangat banyak yang bisa saya syukuri di tahun 2022 ini. Dan masih banyak yang ingin dikejar di 2023 yang muncul sekitar 2 minggu lagi.

Semoga kamu yang sedang baca ini dan merasa 2022 berlalu begitu saja tanpa arti, bisa berubah perasaaannya. You didn't failed. You are on your way to be a better you.

Stay happy.
 






Post of The Month

Akhir Tahun 2022 : Sudah Punya Apa Saja?

Saat saya menulis ini, Tahun 2022 tersisa 19 hari lagi. Jujur, rasanya pedih ke hati. Juga takut. Pedih karena merasa ngga ada perkembangan ...

Yang Ini Juga Menarik...